Industri Kreatif dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)

Industri Kreatif dan Masyarakat Ekonomi Asean – Industri kreatif jika dibina dan didampingi dengan teknologi, akan menjadi lebih unggul. Bahkan kondisi yang sama juga ditemukan di industri terkait dengan software seperti animasi. Hal itu cukup kuat karena banyaknya pesanan dari negara maju. Dengan demikian industri kreatif siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015.

Industri Kreatif dan Masyarakat Ekonomi Asean

Industri kreatif bisa menjadi andalan sebagai salah satu pilar ekonomi di masa datang. Industri kreatif bisa berkembang, karena memiliki nilai dan kreativitas tinggi. Dalam dunia fesyien misalnya, kalaupun bahan sama tetapi desain bisa berubah 10 kali lipat nilainya. Bisa tidak terukur nilainya. Industri kreatif ini bisa terserap tiap tahun dengan penyerapan tenaga kerja sangat tinggi.

Terutama terkait pakaian jadi, tekstil fesyen, kulit, ekspornya makin membaik dengan pulihnya ekonomi di AS. Kendati di saat AS krisis, ekspor Indonesia sempat ambruk. Sekitar 50% nilai ekspor Indonesia ke AS, Eropa seperti Jerman, justru berasal dari industri kreatif. Ekonomi kreatif dikembangkan juga hampir semua negara seperti Inggris, Jepang, Korea. Bahkan Thailand cukup kuat industri kreatifnya. Pernak-perniknya cukup menarik namun, Indonesia masih cukup kompetitif.

Untuk itu, perlu promosi gencar seperti pameran Industri Kreatif dengan produk-produk unggulan seperti batik, tenun, kulit, kayu, rajut, perak, tembaga, kerajinan wayang, herbal, aneka makanan akan sangat membantu menghadapi persaingan global.

Inovasi selalu menjadi kunci bertahannya industri kreatif, bagaimana melihat target konsumen melalui celah seni, tuntutan pasar dan menjaga kualitas.

Sebaiknya kreativitas yang dimiliki selalu diasah dengan mengikuti perkembangan zaman, terutama pada pemasaran barang. Sebagus apa pun produknya jika tidak memiliki tim pemasaran yang bagus, maka akan menjadi percuma hasil produksinya.

Pemanfaatkan media sodial dan aktif dalam kegiatan pameran untuk memperkenalkan produk baik melalui Facebook, Twitter, Line, Instagram, Path, Web, Blog dan jejaring sosial lainnya harus sudah digunakan dalam menawarkan produk.

Untuk mempercepat pengembangan ekonomi kreatif pada lima tahun ke depan (2015-2019) menurut Sekretaris Jenderal Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Ukus Kuswara saat membuka rapat lintas Kementerian untuk membahas sinergi program dan kegiatan dalam rangka percepatan Pengembangan Subsektor Ekonomi Kreatif Nasional 2015-2019 yang berlangsung di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, mengatakan perlunya dilakukan sinergi dan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan ekonomi kreatif (pelaku/praktisi, akademisi, komunitas maupun instansi pemerintah).

Dalam pembagian tugas pengembangan ekonomi kreatif lintas kementerian dan lembaga pemerintah, maka diharapkan keterlibatan 34 kementerian dan lembaga pemerintahan serta seluruh Gubernur, Walikota, dan Bupati dapat bersinergi untuk mengembangkan ekonomi kreatif.

Fokus pengembangan subsektor ekonomi kreatif pada periode 2015-2019 adalah peningkatan daya saing industri kreatif dengan pemanfaatan iptek secara optimal dan pengembangan kreativitas dan kelembagaan industri kreatif. Pada tahun 2015-2019 mendatang Ukus juga menargetkan kontribusi PDB ekonomi kreatif akan mencapai 7-7,5% dengan syarat pertumbuhan PDB Industri Kreatif minimal 5-6%.

Selain itu, tingkat partisipasi tenaga kerja industri kreatif juga ditargetkan mencapai 10,5-11% dari total tenaga kerja nasional, peningkatan devisa negara mencapai 6,5%-8% dan selain itu akan didorong penciptaan kota kreatif dan ruang publik bagi masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.

Ukus optimis bangsa Indonesia dapat mewujudkan target pencapaian tersebut jika semua bersatu, bersama-sama, bergotong royong untuk memperkuat pondasi pembangunan ekonomi kreatif yaitu; orang kreatif, memperkuat kelembagaan sebagai payung dari pengembangan ekonomi kreatif yang dapat memperkuat 5 pilar pengembangan ekonomi kreatif (sumber daya alam dan budaya, industri, pembiayaan, infrastruktur dan teknologi, dan pemasaran).

Demikian info tentangĀ Industri Kreatif dan Masyarakat Ekonomi Asean semoga bermanfaat

Sumber: Sukses Membangun Industri Kreatif, Irwan Sudayat SE

Ternyata belajar internet itu mengasyikan, apalagi bisa punya penghasilan 20 jutaan per bulan... rasanya gimana gitu... Tapi gimana cara belajarnya?? Klik gambar di bawah untuk dapat solusinya

loading...

Post A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.